
Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi pembahasan publik setelah kurs rupiah bertahan di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.600 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan ekonomi global dan penguatan mata uang dolar di pasar internasional. (kumparan.com)
Di tengah perhatian terhadap pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa masyarakat desa dinilai tidak terlalu merasakan dampak langsung karena transaksi sehari-hari tidak menggunakan dolar AS.
“Rakyat di desa tidak pakai dolar,” ujar Prabowo saat menghadiri kegiatan di Jawa Timur. (kumparan.com)
Pernyataan tersebut kemudian ramai dibicarakan di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat maupun pengamat ekonomi.
Dampak Kurs Dinilai Lebih Besar bagi Pelaku Usaha
Pemerintah menyebut pelemahan rupiah lebih banyak berdampak pada pelaku usaha yang memiliki aktivitas impor, pembayaran internasional, maupun transaksi berbasis dolar AS.
Naiknya nilai dolar dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, biaya produksi industri, hingga harga barang tertentu di dalam negeri. Selain itu, sektor perjalanan internasional dan perusahaan dengan kewajiban pembayaran luar negeri juga dinilai paling merasakan tekanan kurs.
Presiden Prabowo menilai masyarakat yang sering melakukan aktivitas internasional menjadi kelompok yang paling terdampak oleh pelemahan rupiah.
“Yang sering ke luar negeri tentu lebih terasa,” katanya. (kumparan.com)
Respons Publik dan Pandangan Ekonom
Pernyataan pemerintah tersebut memunculkan pro dan kontra di ruang publik. Sebagian masyarakat menilai pemerintah berupaya menjaga optimisme agar masyarakat tidak panik terhadap kondisi ekonomi.
Namun sejumlah ekonom menilai dampak pelemahan rupiah tetap dapat dirasakan secara tidak langsung oleh masyarakat luas. Kenaikan biaya impor berpotensi memengaruhi harga barang konsumsi, distribusi, dan kebutuhan pokok dalam jangka panjang.
Karena itu, stabilitas nilai tukar rupiah dinilai penting untuk menjaga inflasi, daya beli masyarakat, serta kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.
Pemerintah Klaim Kondisi Ekonomi Masih Aman
Meski rupiah mengalami tekanan, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Fundamental ekonomi nasional disebut tetap kuat dengan dukungan sektor pangan, energi, dan konsumsi domestik yang masih terjaga.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga disebut terus memantau perkembangan pasar keuangan global guna menjaga kestabilan nilai tukar dan mengantisipasi dampak ekonomi yang lebih luas.
Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama di tengah dinamika ekonomi internasional yang belum sepenuhnya stabil.



.png)










