.png)
Melalui WTE, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai masalah lingkungan, melainkan sebagai sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi dan strategis.
Sampah Nasional Masih Jadi Tantangan
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah Indonesia saat ini mencapai sekitar 69–70 juta ton per tahun. Sekitar 40% di antaranya belum terkelola secara optimal, sehingga menimbulkan persoalan lingkungan, kesehatan, hingga emisi gas rumah kaca.
Bank Dunia dalam laporan What a Waste 2.0 mencatat bahwa tanpa kebijakan terobosan, volume sampah Indonesia berpotensi meningkat hingga 30–40% pada 2030, seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.
WTE Jadi Jawaban Struktural
Presiden Prabowo menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari agenda strategis nasional. Melalui teknologi Waste to Energy, sampah diolah menjadi listrik menggunakan sistem berstandar internasional seperti insinerasi terkendali, gasifikasi, dan refuse-derived fuel (RDF).
Menurut International Energy Agency, WTE telah diterapkan secara luas di berbagai negara maju karena mampu mengurangi ketergantungan pada TPA sekaligus menghasilkan energi yang stabil.
Negara seperti Jepang, Singapura, dan sejumlah negara Eropa telah menjadikan WTE sebagai bagian penting dari sistem pengelolaan sampah dan bauran energi nasional.
Skala Proyek dan Dampak Nyata
Sebanyak 34 proyek WTE yang akan dimulai pemerintah diproyeksikan membawa dampak signifikan, antara lain:
Pengolahan sampah hingga 30–35 ribu ton per hari
Potensi listrik terpasang sekitar 500–700 MW
Pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 1,5–2 juta ton CO₂e per tahun
Pengurangan beban TPA kota besar hingga 20–40%
Angka-angka tersebut disusun dari proyeksi pemerintah dan studi pengelolaan sampah regional Asia.
Dorong Energi Bersih dan Investasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa listrik dari WTE bersifat baseload, artinya dapat beroperasi stabil sepanjang waktu dan tidak bergantung pada cuaca. Hal ini membuat WTE relevan untuk menopang kebutuhan listrik perkotaan dan kawasan industri.
Selain itu, proyek WTE juga membuka peluang investasi besar. Nilai investasi tiap proyek diperkirakan mencapai USD 150–250 juta, sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja di sektor teknologi lingkungan dan energi bersih.
Fokus Tata Kelola dan Standar Lingkungan
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh proyek WTE akan dijalankan dengan standar emisi yang ketat, pengawasan berlapis, serta tata kelola yang transparan. Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa WTE menjadi solusi berkelanjutan, bukan menimbulkan masalah lingkungan baru.
Menuju Ekonomi Hijau
Pelaksanaan 34 proyek Waste to Energy mencerminkan arah kebijakan Presiden Prabowo yang menekankan pembangunan berkelanjutan, kemandirian energi, dan efisiensi ekonomi. Dengan pendekatan ini, sampah diposisikan sebagai bagian dari solusi nasional, bukan lagi beban.
Jika berjalan konsisten, program WTE berpotensi menjadi fondasi penting ekonomi hijau Indonesia, sekaligus memperkuat daya saing nasional di tengah transisi energi global.







