Info Lingkungan

Info Lingkungan

5 min read62

Gerakan Hijau dari Sumedang: Pemkab Tanam 30 Ribu Pohon demi Masa Depan dan Pencegahan Bencana

Sumedang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang mengambil langkah nyata dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan meminimalkan risiko bencana alam dengan menanam 30 ribu pohon di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang. Gerakan penanaman pohon ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah daerah dalam membangun keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

O

OP Admin

Published in Info Lingkungan

Loading...
Gerakan Hijau dari Sumedang: Pemkab Tanam 30 Ribu Pohon demi Masa Depan dan Pencegahan Bencana

Sumedang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang mengambil langkah nyata dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan meminimalkan risiko bencana alam dengan menanam 30 ribu pohon di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang. Gerakan penanaman pohon ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah daerah dalam membangun keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

Program penghijauan tersebut dikemas dalam tajuk “Planting Sumedang Future”, yang tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan simbolis, tetapi juga sebagai gerakan kolektif untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat. Penanaman pohon secara simbolis dipusatkan di bekas galian Blok Asir Banteng, Kecamatan Jatinangor, pada Jumat (12/12/2025).

Kegiatan ini diikuti langsung oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pejabat pemerintah daerah, aparatur kecamatan dan desa, serta berbagai elemen masyarakat. Kehadiran lintas sektor tersebut menegaskan bahwa isu lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan kewajiban bersama.

Bupati Sumedang: Ini Bukan Seremonial, Ini Peradaban

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir yang memimpin langsung gerakan penanaman pohon tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial tahunan. Ia menyebut penanaman pohon sebagai bagian dari peradaban dan ikrar moral untuk meninggalkan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

“Ini adalah peradaban. Ikrar komitmen bahwa kita ingin meninggalkan bumi ini lebih baik dibanding saat kita mendapatkannya,” ujar Dony dalam sambutannya.

Menurutnya, menanam pohon bukan hanya soal menancapkan bibit ke tanah, tetapi juga menanam nilai, harapan, dan kesadaran akan pentingnya menjaga alam. Oleh karena itu, gerakan ini dirancang agar dilakukan secara serentak dan berkelanjutan di seluruh wilayah Sumedang.

“Maka lakukan gerakan menanam pohon serentak di Sumedang. Ini bukan hanya tentang hari ini, tapi tentang masa depan,” tegasnya.

Penanaman Terstruktur Hingga Tingkat Desa

Dalam pelaksanaannya, Pemkab Sumedang memastikan bahwa gerakan penanaman pohon dilakukan secara terstruktur dan terkoordinasi. Setiap kecamatan bertanggung jawab atas pelaksanaan di wilayahnya masing-masing, di bawah koordinasi camat. Sementara itu, di tingkat desa dan kelurahan, kegiatan berada di bawah pengawasan langsung kepala desa dan lurah.

“Setiap kecamatan bergerak, dan di tingkat desa serta kelurahan dikendalikan oleh kepala desa dan lurah. Minimal satu desa menanam 100 pohon atau lebih,” jelas Dony.

Dengan skema tersebut, penanaman pohon tidak terpusat di satu lokasi saja, melainkan tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk daerah rawan bencana, lahan kritis, bantaran sungai, kawasan perbukitan, hingga bekas galian yang berpotensi menjadi sumber kerusakan lingkungan.

“Hari ini kita menanam 30 ribu pohon se-Sumedang. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi,” ucapnya.

Menanam Harapan, Masa Depan, dan Kehidupan

Bagi Dony, makna penanaman pohon jauh melampaui aspek fisik. Ia menyebut bahwa setiap pohon yang ditanam merupakan simbol harapan dan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan hidup manusia.

“Hari ini menanam berarti menanam harapan, menanam masa depan, dan menanam kehidupan,” katanya.

Pohon, menurut Dony, adalah elemen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain berfungsi sebagai penyerap air dan penahan erosi, pohon juga berperan dalam menjaga kualitas udara, menurunkan suhu lingkungan, serta menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup.

Oleh karena itu, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup dan perawatannya di masa mendatang.

Antisipasi Bencana di Tengah Ketidakpastian Iklim

Dalam kesempatan tersebut, Dony menyoroti meningkatnya ancaman bencana alam akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Ia menyebut bahwa bencana seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem kini semakin sulit diprediksi.

“Kebencanaan itu tidak bisa kita prediksi waktunya. Banjir, longsor, musim yang tidak menentu,” ungkapnya.

Karena itu, Pemkab Sumedang memilih pendekatan antisipatif dan preventif, salah satunya melalui gerakan penghijauan massal. Penanaman pohon diyakini sebagai solusi alami yang efektif untuk mengurangi risiko bencana, khususnya di daerah dengan kontur perbukitan dan aliran sungai yang rawan.

“Hari ini solusinya kita semua berkumpul di sini, melakukan penanaman bersama-sama,” ujarnya.

Pesan Hijau dari Sumedang untuk Indonesia

Dony juga menekankan bahwa gerakan Planting Sumedang Future membawa pesan yang lebih luas, tidak hanya untuk warga Sumedang, tetapi juga untuk Indonesia secara keseluruhan. Ia berharap Sumedang dapat menjadi contoh daerah yang serius membangun gerakan hijau berbasis partisipasi masyarakat.

“Ini memberikan pesan ke Indonesia bahwa dari Sumedang dibangun gerakan hijau,” kata Dony.

Menurutnya, gerakan lingkungan tidak boleh berhenti pada slogan atau simbol semata. Penanaman pohon harus disertai perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam.

“Tidak hanya berhenti di bibir tanah, tapi hidup di hati manusia. Sampaikan pesan ini,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Bekas Galian Jadi Simbol Pemulihan Lingkungan

Pemilihan lokasi penanaman di bekas galian Blok Asir Banteng, Jatinangor, memiliki makna simbolis yang kuat. Kawasan tersebut sebelumnya mengalami degradasi lingkungan akibat aktivitas galian, sehingga rawan erosi dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan lanjutan.

Dengan menjadikannya lokasi penanaman pohon, Pemkab Sumedang ingin menunjukkan bahwa lahan rusak masih bisa dipulihkan melalui komitmen bersama dan tindakan nyata.

Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya rehabilitasi lingkungan.

Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Melindungi Warga

Dalam pernyataannya, Dony menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin. Ia menyebut bahwa pemimpin di mana pun berada memiliki kewajiban utama untuk melindungi jiwa warganya, termasuk dari ancaman bencana alam.

“Seorang pemimpin berkewajiban melindungi jiwa warganya,” tegasnya.

Perlindungan tersebut, menurut Dony, tidak hanya dilakukan melalui kebijakan tertulis, tetapi juga melalui kegiatan nyata yang berdampak langsung bagi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

“Melindungi dengan kebijakan dan kegiatan yang berdampak untuk melindungi jiwa warganya,” ujarnya.

Menjaga Lingkungan sebagai Warisan Generasi

Gerakan penanaman 30 ribu pohon ini diharapkan menjadi awal dari upaya berkelanjutan dalam menjaga lingkungan di Kabupaten Sumedang. Pemerintah daerah menargetkan agar kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara konsisten, melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, sekolah, komunitas, dan sektor swasta.

Dony mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya ikut menanam, tetapi juga menjaga dan merawat pohon yang telah ditanam agar benar-benar tumbuh dan memberi manfaat.

“Mari kita jaga lingkungan,” pungkasnya.

Komitmen Jangka Panjang Sumedang

Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana, langkah Pemkab Sumedang menanam 30 ribu pohon menjadi simbol komitmen daerah dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Gerakan ini menegaskan bahwa solusi terhadap krisis lingkungan tidak selalu harus kompleks, tetapi membutuhkan niat kuat, konsistensi, dan partisipasi kolektif.

Dengan menanam pohon hari ini, Sumedang tidak hanya menanam akar di tanah, tetapi juga menanam harapan bagi generasi yang akan datang—bahwa alam yang lestari adalah fondasi utama bagi kehidupan yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles