Info Lingkungan

Info Lingkungan

4 min read372

Rekap isu lingkungan — Januari 2026

menyorot peristiwa yang dilaporkan ke publik dan berdampak nyata (banjir, kebakaran hutan/lahan, tumpahan minyak, sampah pasca-banjir).

O

OP Admin

Published in Info Lingkungan

Loading...
Rekap isu lingkungan — Januari 2026

Data Rekap Isu Lingkungan - Januari 2026

Daerah

Isu lingkungan

Status (per laporan)

Risiko

Kronologi (tanggal kunci & ringkasan)

DKI Jakarta

Banjir akibat hujan lebat (genangan di banyak wilayah)

Sudah surut di banyak titik (lap. BPBD 26 Jan) — pembersihan/rekonstruksi berjalan

Gangguan mobilitas, penyakit, infrastruktur rusak, sampah/limbah menumpuk (sumber polusi)

Hujan lebat 22–26 Jan memicu banjir; BPBD melaporkan genangan banyak titik dan pada 26 Jan menyatakan genangan di DKI sudah banyak surut. (sumber: Detik).

Jawa Barat (Bekasi, Karawang, Indramayu, Karawang utara)

Banjir luapan & tanggul jebol

Sedang ditangani oleh BPBD setempat; beberapa wilayah masih terdampak

Kerusakan rumah, petani terancam gagal panen, gangguan ekonomi lokal

Hujan deras awal/pertengahan Januari (sekitar 14–23 Jan) memicu banjir di Bekasi/Karawang/Indramayu; laporan-lokal melaporkan ratusan rumah terendam dan sawah terendam.

Probolinggo (Jatim)

Banjir luas (luapan sungai)

Siaga; BPBD kerahkan personel

Inundasi permukiman, kerugian pertanian, evakuasi warga

Hujan 21 Jan menyebabkan luapan sungai, 10 kecamatan terdampak, ketinggian air sampai >1 m; BPBD menetapkan status siaga.

Kepulauan Riau — Bintan

1) Kebakaran hutan & lahan (karhutla) 2) Tumpahan minyak pesisir (Teluk Sasah)

Karhutla: aktif — BPBD tangani puluhan kejadian sepanjang Jan; Tumpahan minyak: terdeteksi & ditanggapi lokal

Karhutla → asap (kesehatan), degradasi lahan; Tumpahan minyak → pencemaran pesisir, ancam nelayan & ekosistem mangrove

BPBD Bintan melaporkan 69 kejadian karhutla sepanjang Januari 2026; terpisah, tumpahan minyak mencemari perairan Teluk Sasah (lap. awal Jan).

Aceh Barat (Aceh)

Karhutla meluas (lahan gambut terpanggang)

Aktif, area terpantau meluas (lap. Antara)

Asap → masalah kesehatan, risiko lahan gambut terbakar berkepanjangan → emisi, kerusakan habitat

Laporan: karhutla sejak pertengahan Januari, meluas hingga puluhan hektare (mis. 12 → 17 ha pada pelaporan). BMKG juga peringatkan potensi perluasan pada wilayah Aceh.

Kotawaringin Timur / Kalteng (Kotim)

Karhutla — status siaga darurat diterapkan

Siaga darurat (penetapan 23 Jan — 21 Feb di beberapa daerah)

Potensi asap meluas, ancaman kesehatan dan gangguan transportasi & ekonomi lokal

Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 23 Jan menyusul pengeringan lahan dan kejadian kebakaran beberapa lokasi.

Jakarta Barat (pasca-banjir)

Penumpukan sampah di badan sungai / kali

Penanganan: pengangkutan sampah berlangsung (laporan: ratusan ton)

Penyumbatan drainase → risiko banjir berulang; sumber penyakit

Setelah banjir, Pemkot Jakbar angkut ~187 ton sampah dari tepi Kali Mookervaart (lap. Detik).

Analisa tren isu lingkungan — Januari 2026 (ringkas, berbasis bukti)

  1. Hujan ekstrem → banjir tersebar di Pulau Jawa dan beberapa provinsi (mid–late Jan).
    BMKG dan laporan media mencatat gelombang hujan lebat di pertengahan dan akhir Januari (14 Jan peringatan awal; 22–26 Jan banjir besar di Jabodetabek/Jawa Barat/Jawa Timur). Akibatnya muncul banjir urban (Jakarta) dan banjir sungai/luapan (Probolinggo, Indramayu). Dampak sekunder: penumpukan sampah pasca-banjir dan ancaman gagal panen.

Dua pola bencana berjalan paralel: hidrometeorologi (hujan/banjir) di wilayah barat/selatan dan kebakaran lahan (karhutla) di wilayah timur/nusa & Sumatra utara/Aceh/Perbatasan gambut.
Januari menunjukkan peristiwa karhutla aktif (Aceh Barat, Bintan, Kotim) meski sebagian wilayah mengalami musim hujan; ini menunjukkan kerentanan spasial — beberapa daerah sudah mengering atau dibuka lahan sehingga mudah terbakar, sementara daerah lain kebanjiran. (laporan karhutla Bintan: 69 kejadian; Aceh Barat gambut terpanggang).

Pencemaran pesisir (tumpahan minyak) tetap muncul sebagai isu lokal dengan dampak sosial-ekonomi langsung untuk komunitas pesisir.
Kasus Teluk Sasah (Bintan) awal Januari menunjukkan fragilitas manajemen risiko laut/pesisir dan kebutuhan respons cepat untuk melindungi nelayan & mangrove.

Dampak kesehatan & ekonomi segera — pola: banjir → genangan & sampah → risiko penyakit; karhutla → asap & gangguan pernapasan; tumpahan minyak → kehilangan mata pencaharian nelayan.
Laporan medis/OPD setempat menyebutkan ancaman kesehatan dari asap dan potensi gagal panen setelah banjir; sampah pasca-banjir (contoh Jakbar 187 ton) memperburuk risiko banjir berulang dan sanitasi.

Respon aparat lokal meningkat (siaga darurat, pengerahan Manggala Agni, penanganan BPBD), namun tantangan koordinasi lintas-daerah masih terlihat.
Beberapa kabupaten/ provinsi menetapkan status siaga darurat (contoh Kotim) dan BPBD aktif menangani puluhan kejadian karhutla—menandakan intensitas kejadian yang memerlukan alokasi sumber daya berkelanjutan.

Rekomendasi singkat untuk analisis lanjutan / prioritas pemantauan

  • Prioritaskan dataset waktu-nyata: BPBD provinsi, BMKG (curah hujan & peringatan), data kualitas udara (PM2.5) untuk daerah karhutla, dan laporan KKP/KSOP untuk tumpahan minyak.

  • Pantau dua jalur sekaligus: (1) risiko hidrometeorologi (banjir/longsor) di Pulau Jawa/Sumatra Selatan; (2) risiko kebakaran & asap di wilayah gambut/sering pembukaan lahan (Kalteng, Aceh, Kepri).

  • Tambahkan indikator dampak sosial-ekonomi: luas lahan terendam/terbakar (ha), jumlah jiwa terdampak, ton sampah pasca-bencana, jumlah nelayan terdampak akibat tumpahan minyak.

  • Saran metodologi: gabungkan scraping berita kredibel + cross-check dengan sumber resmi (BPBD prov, BMKG, Kementerian/LHK, KKP) untuk membuat dashboard rekap mingguan/bulanan.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles