
Data Rekap Isu Lingkungan - Januari 2026
Daerah | Isu lingkungan | Status (per laporan) | Risiko | Kronologi (tanggal kunci & ringkasan) |
|---|---|---|---|---|
DKI Jakarta | Banjir akibat hujan lebat (genangan di banyak wilayah) | Sudah surut di banyak titik (lap. BPBD 26 Jan) — pembersihan/rekonstruksi berjalan | Gangguan mobilitas, penyakit, infrastruktur rusak, sampah/limbah menumpuk (sumber polusi) | Hujan lebat 22–26 Jan memicu banjir; BPBD melaporkan genangan banyak titik dan pada 26 Jan menyatakan genangan di DKI sudah banyak surut. (sumber: Detik). |
Jawa Barat (Bekasi, Karawang, Indramayu, Karawang utara) | Banjir luapan & tanggul jebol | Sedang ditangani oleh BPBD setempat; beberapa wilayah masih terdampak | Kerusakan rumah, petani terancam gagal panen, gangguan ekonomi lokal | Hujan deras awal/pertengahan Januari (sekitar 14–23 Jan) memicu banjir di Bekasi/Karawang/Indramayu; laporan-lokal melaporkan ratusan rumah terendam dan sawah terendam. |
Probolinggo (Jatim) | Banjir luas (luapan sungai) | Siaga; BPBD kerahkan personel | Inundasi permukiman, kerugian pertanian, evakuasi warga | Hujan 21 Jan menyebabkan luapan sungai, 10 kecamatan terdampak, ketinggian air sampai >1 m; BPBD menetapkan status siaga. |
Kepulauan Riau — Bintan | 1) Kebakaran hutan & lahan (karhutla) 2) Tumpahan minyak pesisir (Teluk Sasah) | Karhutla: aktif — BPBD tangani puluhan kejadian sepanjang Jan; Tumpahan minyak: terdeteksi & ditanggapi lokal | Karhutla → asap (kesehatan), degradasi lahan; Tumpahan minyak → pencemaran pesisir, ancam nelayan & ekosistem mangrove | BPBD Bintan melaporkan 69 kejadian karhutla sepanjang Januari 2026; terpisah, tumpahan minyak mencemari perairan Teluk Sasah (lap. awal Jan). |
Aceh Barat (Aceh) | Karhutla meluas (lahan gambut terpanggang) | Aktif, area terpantau meluas (lap. Antara) | Asap → masalah kesehatan, risiko lahan gambut terbakar berkepanjangan → emisi, kerusakan habitat | Laporan: karhutla sejak pertengahan Januari, meluas hingga puluhan hektare (mis. 12 → 17 ha pada pelaporan). BMKG juga peringatkan potensi perluasan pada wilayah Aceh. |
Kotawaringin Timur / Kalteng (Kotim) | Karhutla — status siaga darurat diterapkan | Siaga darurat (penetapan 23 Jan — 21 Feb di beberapa daerah) | Potensi asap meluas, ancaman kesehatan dan gangguan transportasi & ekonomi lokal | Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 23 Jan menyusul pengeringan lahan dan kejadian kebakaran beberapa lokasi. |
Jakarta Barat (pasca-banjir) | Penumpukan sampah di badan sungai / kali | Penanganan: pengangkutan sampah berlangsung (laporan: ratusan ton) | Penyumbatan drainase → risiko banjir berulang; sumber penyakit | Setelah banjir, Pemkot Jakbar angkut ~187 ton sampah dari tepi Kali Mookervaart (lap. Detik). |
Analisa tren isu lingkungan — Januari 2026 (ringkas, berbasis bukti)
Hujan ekstrem → banjir tersebar di Pulau Jawa dan beberapa provinsi (mid–late Jan).
BMKG dan laporan media mencatat gelombang hujan lebat di pertengahan dan akhir Januari (14 Jan peringatan awal; 22–26 Jan banjir besar di Jabodetabek/Jawa Barat/Jawa Timur). Akibatnya muncul banjir urban (Jakarta) dan banjir sungai/luapan (Probolinggo, Indramayu). Dampak sekunder: penumpukan sampah pasca-banjir dan ancaman gagal panen.
Dua pola bencana berjalan paralel: hidrometeorologi (hujan/banjir) di wilayah barat/selatan dan kebakaran lahan (karhutla) di wilayah timur/nusa & Sumatra utara/Aceh/Perbatasan gambut.
Januari menunjukkan peristiwa karhutla aktif (Aceh Barat, Bintan, Kotim) meski sebagian wilayah mengalami musim hujan; ini menunjukkan kerentanan spasial — beberapa daerah sudah mengering atau dibuka lahan sehingga mudah terbakar, sementara daerah lain kebanjiran. (laporan karhutla Bintan: 69 kejadian; Aceh Barat gambut terpanggang).
Pencemaran pesisir (tumpahan minyak) tetap muncul sebagai isu lokal dengan dampak sosial-ekonomi langsung untuk komunitas pesisir.
Kasus Teluk Sasah (Bintan) awal Januari menunjukkan fragilitas manajemen risiko laut/pesisir dan kebutuhan respons cepat untuk melindungi nelayan & mangrove.
Dampak kesehatan & ekonomi segera — pola: banjir → genangan & sampah → risiko penyakit; karhutla → asap & gangguan pernapasan; tumpahan minyak → kehilangan mata pencaharian nelayan.
Laporan medis/OPD setempat menyebutkan ancaman kesehatan dari asap dan potensi gagal panen setelah banjir; sampah pasca-banjir (contoh Jakbar 187 ton) memperburuk risiko banjir berulang dan sanitasi.
Respon aparat lokal meningkat (siaga darurat, pengerahan Manggala Agni, penanganan BPBD), namun tantangan koordinasi lintas-daerah masih terlihat.
Beberapa kabupaten/ provinsi menetapkan status siaga darurat (contoh Kotim) dan BPBD aktif menangani puluhan kejadian karhutla—menandakan intensitas kejadian yang memerlukan alokasi sumber daya berkelanjutan.
Rekomendasi singkat untuk analisis lanjutan / prioritas pemantauan
Prioritaskan dataset waktu-nyata: BPBD provinsi, BMKG (curah hujan & peringatan), data kualitas udara (PM2.5) untuk daerah karhutla, dan laporan KKP/KSOP untuk tumpahan minyak.
Pantau dua jalur sekaligus: (1) risiko hidrometeorologi (banjir/longsor) di Pulau Jawa/Sumatra Selatan; (2) risiko kebakaran & asap di wilayah gambut/sering pembukaan lahan (Kalteng, Aceh, Kepri).
Tambahkan indikator dampak sosial-ekonomi: luas lahan terendam/terbakar (ha), jumlah jiwa terdampak, ton sampah pasca-bencana, jumlah nelayan terdampak akibat tumpahan minyak.
Saran metodologi: gabungkan scraping berita kredibel + cross-check dengan sumber resmi (BPBD prov, BMKG, Kementerian/LHK, KKP) untuk membuat dashboard rekap mingguan/bulanan.


.png)




