
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Program Magang Nasional menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengurangi kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha. Berdasarkan hasil evaluasi, dari 100.000 fresh graduate yang mengikuti program pada 2025, sekitar 30.000 peserta langsung memperoleh pekerjaan setelah program berakhir.
Pengalaman Kerja Menjadi Kunci
Selama ini, banyak perusahaan mensyaratkan pengalaman kerja ketika membuka rekrutmen. Di sisi lain, lulusan baru sering kali kesulitan memenuhi persyaratan tersebut karena belum pernah bekerja.
Kondisi tersebut menciptakan skills mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia industri.
Program Magang Nasional hadir sebagai solusi dengan memberikan pengalaman kerja riil di perusahaan mitra sebelum peserta memasuki pasar kerja secara permanen.
Melalui mekanisme tersebut, lulusan baru memperoleh kesempatan membangun portofolio profesional sekaligus memahami standar kerja yang diterapkan perusahaan.
Tidak Hanya 30 Persen, Seluruh Peserta Mendapat Nilai Tambah
Keberhasilan sekitar 30 persen peserta langsung direkrut menjadi capaian yang paling menonjol dari pelaksanaan angkatan pertama.
Namun pemerintah menilai manfaat program tidak berhenti pada angka tersebut.
Sebanyak 70 persen peserta lainnya tetap memperoleh pengalaman kerja yang menjadi nilai tambah ketika mengikuti proses rekrutmen di perusahaan lain. Pengalaman magang, penilaian mentor, serta kemampuan bekerja dalam lingkungan profesional menjadi modal yang dapat meningkatkan daya saing mereka dibandingkan lulusan yang belum memiliki pengalaman kerja.
Kuota Program Naik Menjadi 150 Ribu Peserta
Melihat tingginya manfaat program, pemerintah memutuskan memperluas Program Magang Nasional pada tahun 2026.
Jumlah peserta ditingkatkan menjadi 150.000 fresh graduate, meningkat 50 persen dibandingkan angkatan pertama.
Penambahan kuota ini diharapkan dapat memperluas akses lulusan perguruan tinggi terhadap pengalaman kerja sekaligus membantu dunia usaha memperoleh calon tenaga kerja yang lebih siap pakai.
Program akan melibatkan lebih banyak perusahaan dari berbagai sektor sehingga pilihan bidang magang semakin luas.
Didampingi Mentor dari Dunia Industri
Seluruh peserta Program Magang Nasional akan memperoleh pendampingan dari mentor profesional yang berasal dari perusahaan tempat mereka menjalani magang.
Pendampingan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga mencakup pembentukan karakter profesional seperti disiplin, komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan di tempat kerja.
Dengan sistem pembelajaran langsung di industri, peserta diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik ketika memasuki dunia kerja setelah program selesai.
Semakin Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Pemerintah juga memastikan bahwa Program Magang Nasional Angkatan II dirancang lebih inklusif.
Selain terbuka bagi lulusan perguruan tinggi secara umum, program ini juga memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk mengikuti proses seleksi dan memperoleh pengalaman kerja sesuai kompetensi yang dimiliki.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperluas akses terhadap kesempatan kerja yang setara.
Peserta Mendapat Upah Selama Magang
Selain pengalaman kerja dan pendampingan profesional, peserta juga memperoleh upah selama mengikuti program.
Besaran upah mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di lokasi penempatan perusahaan. Nilainya berbeda-beda sesuai daerah, dengan kisaran sekitar Rp3,5 juta hingga Rp6 juta per bulan.
Skema ini diharapkan tidak hanya membantu peserta memenuhi kebutuhan selama magang, tetapi juga menciptakan pengalaman kerja yang lebih profesional sejak awal karier mereka.
Menyiapkan SDM yang Lebih Kompetitif
Program Magang Nasional merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, program ini berupaya mempercepat transisi lulusan baru menuju dunia kerja sekaligus mengurangi kesenjangan kompetensi yang selama ini menjadi tantangan pasar tenaga kerja.
Dengan 30 persen peserta angkatan pertama langsung terserap ke dunia kerja, perluasan kuota menjadi 150.000 peserta, keterlibatan mentor profesional, pemberian upah selama magang, serta akses yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas, Program Magang Nasional diharapkan menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan daya saing SDM Indonesia.














