4 min read720

Reformasi Jilid II Dibahas dari Meja Diskusi, Mahasiswa Semarang Dorong Kritik yang Solutif dan Dukung Perbaikan Tata Kelola Nasional

SEMARANG – Di tengah maraknya wacana Reformasi Jilid II yang berkembang di berbagai platform media dan ruang publik, sekelompok mahasiswa, akademisi, aktivis, dan budayawan di Semarang memilih pendekatan yang lebih dialogis. Melalui forum terbuka bertajuk “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II”, mereka membahas berbagai persoalan bangsa sekaligus menyoroti pentingnya mengawal program-program pembangunan nasional secara kritis dan konstruktif.

O

OP Admin

Published in Info Lingkungan

Loading...
Reformasi Jilid II Dibahas dari Meja Diskusi, Mahasiswa Semarang Dorong Kritik yang Solutif dan Dukung Perbaikan Tata Kelola Nasional

Forum yang digelar di Hans Kopi Veteran, Semarang, tersebut menjadi ruang diskusi yang mempertemukan berbagai perspektif mengenai demokrasi, pembangunan ekonomi, tata kelola kebijakan publik, hingga peran generasi muda dalam menjaga arah perjalanan bangsa.

Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Umum Luar Negeri LMND Evantio Yudhistira, Presiden BEM Polines Kevin Kurnia Priambodo, akademisi dan pengamat politik Universitas Diponegoro Nur Hidayat Sardini, serta budayawan Beno Siang Pamungkas. Diskusi dipandu oleh moderator Edhi Prayitno Ige.

Mahasiswa Dorong Reformasi Berbasis Gagasan

Dalam forum tersebut, Evantio Yudhistira menilai bahwa semangat reformasi seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai gerakan protes, tetapi juga sebagai upaya membangun solusi dan memperkuat kualitas demokrasi melalui pertukaran gagasan.

Menurutnya, Indonesia saat ini membutuhkan ruang diskusi yang mampu mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk membahas persoalan bangsa secara objektif dan mendalam.

“Diskusi seperti ini memang dibutuhkan oleh bangsa kita saat ini. Diskusi yang ilmiah, penuh dialektika, menjadi kebutuhan bersama. Apa yang kita lakukan untuk bangsa saat ini membutuhkan persatuan nasional, dan salah satu bentuknya adalah ruang diskusi seperti ini,” ujar Evantio.

Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu melihat perkembangan nasional secara menyeluruh, termasuk berbagai kebijakan dan program yang sedang dijalankan pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kita harus melihat situasi secara objektif, jangan sampai termakan algoritma atau emosi yang terus menampilkan keburukan. Kita harus melihat secara menyeluruh apa yang dilakukan negara saat ini,” tambahnya.

Menurut Evantio, kritik yang disampaikan secara rasional dan berbasis data akan jauh lebih efektif dalam mendorong perubahan dibandingkan pendekatan yang hanya berorientasi pada konflik.

Mengawal Pembangunan, Bukan Sekadar Mengkritik

Dalam diskusi tersebut, para peserta juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal berbagai program pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah.

Evantio menilai bahwa keberhasilan pembangunan nasional memerlukan partisipasi seluruh elemen bangsa, mulai dari mahasiswa, akademisi, petani, nelayan, hingga pelaku usaha.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut memastikan berbagai kebijakan berjalan sesuai tujuan dan memberikan manfaat bagi rakyat.

“Momentum ini harus menjadi titik balik agar sumber daya bangsa bisa dinikmati untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai agenda pemerintah yang saat ini berfokus pada penguatan ekonomi kerakyatan, hilirisasi industri, ketahanan pangan, serta pemerataan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.

Koperasi Merah Putih Perlu Tata Kelola yang Kuat

Sementara itu, akademisi Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menekankan bahwa demokrasi yang sehat harus menghadirkan ruang evaluasi yang mampu membantu penyempurnaan kebijakan publik.

Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya kritik yang produktif, yakni kritik yang tidak berhenti pada penolakan, tetapi juga menawarkan rekomendasi perbaikan.

“Di Semarang masih sangat sedikit forum yang secara serius membedah komitmen kita terhadap perbaikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

Dalam pembahasannya, Nur Hidayat menyoroti program Koperasi Merah Putih yang saat ini menjadi salah satu program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi masyarakat berbasis komunitas.

Ia menilai bahwa perhatian utama seharusnya diarahkan pada aspek tata kelola agar program tersebut benar-benar mampu mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

“Bukan soal mendukung atau menolak, tetapi bagaimana tata kelola program itu diperbaiki. Harus jelas siapa sasaran penerima manfaat, bagaimana rekrutmen operatornya, serta bagaimana distribusinya agar tepat sasaran,” jelasnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan konstruktif yang melihat program pemerintah sebagai sesuatu yang perlu terus diperbaiki agar manfaatnya semakin optimal bagi masyarakat.

Ruang Dialog Perkuat Demokrasi dan Stabilitas

Para peserta forum sepakat bahwa demokrasi yang matang membutuhkan ruang dialog yang sehat dan inklusif. Di tengah berbagai tantangan global, seperti perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian geopolitik, stabilitas nasional menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan.

Melalui forum-forum diskusi seperti “Bicara Merdeka”, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi sekaligus memberikan masukan yang bermanfaat bagi penyempurnaan kebijakan publik.

Pendekatan dialogis tersebut dinilai mampu memperkuat partisipasi publik tanpa harus menciptakan polarisasi yang berlebihan.

Dari Semarang untuk Indonesia yang Lebih Maju

Forum “Bicara Merdeka: Reformasi Jilid II” menjadi contoh bagaimana semangat perubahan dapat diwujudkan melalui pertukaran gagasan yang terbuka dan bertanggung jawab.

Di tengah berbagai agenda pembangunan yang sedang berlangsung, mahasiswa dan masyarakat sipil menunjukkan bahwa reformasi tidak selalu identik dengan konfrontasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam memberikan kritik, masukan, dan solusi.

Dengan mengedepankan dialog, persatuan, dan semangat kolaborasi, forum tersebut menghadirkan pesan bahwa pembangunan nasional akan semakin kuat apabila pemerintah dan masyarakat mampu berjalan beriringan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles